PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS PADA KURIKULUM
KTSP
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Proses terakhir dalam kegiatan organisasi adalah penilaian atau
evaluasi. evaluasi adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang berupa
kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya
informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam
mengambil suatu keputusan untuk langkah berikutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan,
tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang
diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk
mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar
mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau
evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses
pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai
tujuan pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian
mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu
diperbaiki. Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi diantaranya
dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, melalui tes kita dapat
mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah
diberikan.
Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran adalah
penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen
evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak
lanjut. Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi
deskriptif dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun
non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat
berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk
jawaban singkat, benarsalah,menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai
variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan
gambar tabel. Untuk tes uraia yang juga disebut dengan tes subyektif dapat
berbentuk tes uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya
untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, seorang guru harus
mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau
non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen. yang baik,
minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan
reliable (dapat dipercaya).
Seorang guru yang baik perlu memiliki keterampilan untuk mengembangkan
berbagai bentuk instrumen guna mengukur ketercapaian kopetensi siswa dalam
makalah ini kami akan memfokuskan pembahasan tentang “Pengembangan Instrumen
Penilaian Tes Tulis” sehingga kita bisa mengetahui dan membedakan berbagai
instrumen penilaian tes tulis.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana instrumen tes tulis ?
2. Kompenen atau kelengkapan beserta
hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebelum tes
tulis berlangsung?
3. Apakah tes tulis itu ?
4. Kompenen dan langkah-langkah apa saja
dalam pembuatan kisi-kisi tes tulis ?
5. Sebutkan fungsi tes dan bagaimana
cara penilaiannya ?
6. Bagaimana cara penyusunan bentuk tes tulis
itu ?
7. Apa kelebihan dan kekurangan dari tes
tulis ?
C. TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan pembahasan makala ini adalah agar kita dapat mengetahuibagaimana
pengembangan dan penilaian dari tes tulis itu, sehingga kita dapat
mengetahui berbagai aspek atau kelengkapan dalam pembuatan soal dan
cara penilaian dalam tes tulis. Dan diharapkan makala ini dapat membantu dalam
pembuatan soal tes tulis dan bagaimana cara menentukan penilaiannya untuk kita
sebagai calon pendidik. Dalam makala ini juga membahas tentang masing-masing
kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam tes tulis. Semoga malakah ini bisa
bermanfaat.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENILAIAN TES TULIS
1. Komponen atau Kelengkapan
Sebelum Tes Terdiri Atas :
a. Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat
butir-butir soal yang harus dikerjakan
oleh siswa.
b. Lembaran jawaban tes, yaitu lembaran yang
disediakan bagi testee untuk mengerjakan tes.
Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya dibuatkan lembaran nomer dan huruf
a, b, c, d.
Menurut banyaknya alternatif yang disediakan.
c. Kunci jawaban tes, berisi jawaban-jawaban yang
dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat
berupa huruf-huruf yang dikehendaki. Untuk tes bentuk uraian yang
dituliskan adalah kata-
kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban.
Ide daripada
adanya kunci jawaban ini adalah agar :
Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh
orang lain.
Pemeriksaannya benar.
Dapat dilakukan dengan mudah.
Sedikit mungkin masuknya unsur
subjektif
d. Pedoman penilaian (pedoman skoring), berisi keterangan
perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal
yang telah dikerjakan.
2. Hal-hal yang harus di
lakuakn sebelum menulis soal tes tulis
sebelum menulis soal
maka hal-hal yang harus di lakukan diantaranya yaitu:
menentukan tujuan tes
menyusun kisi-kisi soal
penulisan soal
pemberian skor
pelaporan hasil
tes
Contoh pedoman penilaiaan :
Tiap soal diberi skor 1.
Jumlah skor : 1x10 =
10.
Tiap soal diberi skor 2.
Julah skor : 2x5 = 10
Jumlah skor 20
Skor maksimum 40
B. TES TULIS
1. Pengartian Tes Tulis
Tes secara harfiah berasal dari bahasa perancis kuno “testum” artinya
piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan
atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan,
pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau
kelompok.
Tes juga dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab
atau pertanyaan yang harus dipilih dengan tujuan untuk mengukur aspek
perilaku tertentu dari orang yang dikenai tes.
Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada
peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak
selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk
yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain
sebagainya. Tes tulis merupakan suatu tes yang menuntut siswa
memberikan jawaban secara tertulis.
Tes tertulis mempunyai dua macam yaitu yang pertama Tes
obyektif (tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang
telah disediakan atau memberikan jawaban singkat dan terbatas),
yang kedua yaitu Tes Subjektif/Essai (tes tertulis yang meminta siswa
memberikan jawaban berupa uraian atau kalimat yang panjang-panjang. Panjang
pendeknya tes essai adalah relatif, sesuai kemampuan si penjawab tes).
2. Komponen Kisi-Kisi Tes
Tulis
Sebelum menulis soal tes tulis, salah satu hal yang harus dilakukan adalah
menysun kisi-kisi tes. Kisi-kisi tes atau blue print, table of
specification, lay-out, plan, or frame work berfungsi sebagai pedoman
dalam penulisan soal dan perakitan tes.
Komponen kisi-kisi tes yaitu :
Jenis sekolah/kelas/semester
Mata pelajaran
Kurikulum yang diacu
Alokasi waktu
Jumlah soal
Bentuk soal
Bahan-bahan pengajaran yang akan
diukur
Jenis kompetensi yang akan
diukur (ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi)
Banyaknya soal yang akan disusun
untuk masing-masing bahan pengajaran dan kompetensi/aspel intelektual yang akan
diukur.
Bentuk soal
Tingkat kesukaran masing-masing
soal.
3. Langkah-Langkah Pembuatan
Kisi-Kisi
Langkah-langkah
pembuatan/pengisian kisi-kisi, yaitu :
Mendaftar
pokok-pokok materi yang akan diteskan
(berdasarkan silabus)
Memberikan imbangan bobot/presentase
untuk masing-masing pokok materi (berdasarkan pada luas dan tingkat kedalaman
materi)
Merinci banyaknya butir soal
(proporsi jumlah item) untuk tiap-tiap materi.
Menentukan proporsi/prosentase
untuk setiap pokok aspek intelektual yang diukur bagi
setiap pokok-pokok materi (perhatikan homogenitas dan heterogenitas bahan).
Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi
Pemberian nomor item.
C. FUNGSI TES DAN CARA PENILAIANNYA
Tes mempunyai dua
fungsi yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif.
1. Tes Formatif
Tes formatif adalaah tes yang diberikan kepada murid-murid pada setiap
akhir program satuan pelajaran. Fungsinya yaitu untuk mengetahui sampai dimana
pencapaian hasil belajar murid dalam penguasaan bahan atau materi pelajaran
yang telah diberikan sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah
dirumuskan di dalam satuan pelajaran.
Dalam penilaian formatif ini, jika tujuan-tujuan instruksional khusus telah
dirumuskan dengan tepat, distribusi tingkat kesukaran soal-soal (item tes) dan
daya pembeda masing-masing soal tidak begitu penting. Yang penting adalah bahwa
setiap soal betul-betul mengukur tujuan instruksional yang hendak dicapai yang
telah dirumuskan di dalam progam satuan pelajaran.
Standar yang digunakan dalam mengolah hasil tersebut adalah standar mutlak.
Dengan menggunakan standar mutlak dimaksudkan bahwa tes ini bertujuan untuk
mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan instruksional khusus telah dicapai oleh
siswa, dan bukan untuk mengetahui status setiap siswa dibandingkan dengan
siswa-siswa lainnya dalam kelas yang sama.
Ada dua jenis pengolahan yang diperlukan di dalam penilaian formatif
ini, yaitu :
1) Pengolahan untuk mendapatkan angka presentase siswa
yang gagal dalam setiap soal, misalnya :
|
Soal Nomer
|
% siswa yang gagal
|
|
1
|
30 %
|
|
2
|
85 %
|
|
3
|
60 %
|
|
dan sebagainya
|
dan seterusnya
|
Untuk soal bentuk
uraian, pengertian “siswa yang gagal” di atas dapat pula diartikan sebagai
siswa yang jawabannya terhadap suatu soal dipandang kurang memuaskan..
2) Pengolahan untuk mendapatka hasil yang dicapai setipa
siswa dalam tes secara keseluruhan ditinjau dari presentase jawaban yang
memuaskan, misalnya :
|
Nama Siswa
|
Hasil yang dicapai
( % jawaban yang
memuaskan)
|
|
1. Iswa
|
90 %
|
|
2. Jamilah
|
60 %
|
|
3. Nurwiyatsih
|
75 %
|
|
dan seterusnya
|
dan seterusnya
|
Sebagai contoh. Bila
skor maksimum yang harus dicapai dalam suatu tes adalah 60, angka yang dicapai
Iswa dalam tes tersebut adalah :
Dengan kata lain, cara
menilai tes formatif dilakukan dengan percentages correction (hasil yang
dicapai setiap siswa dihitung dari persentase jawaban yang benar).
Keteranagan
:
S = niali yang
diharapkan
R = jumlah skor dari
item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum dari
tes tersebut
Tes formatif mempunyai
karakteristik sebagai berikut:
dilakukan pada saat
berlangsungnya proses belajar mengajar
di lakukan secara
periodik
mencakup semua mata
pelajaran yang telah di ajarkan
bertujuan untuk
mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
dapat di gunakan
untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.
2. Tes Sumatif
Tes sumatif biasanya diadakan tiap caturwulan sekali atau setiap semester
(yang baik adalah setip jangka waktu tertentu bila suatu unit atau bagian bahan
pelajaran telah selesai diajarkan melalui satuan-satuan pelajaran). Fungsi tes
sumatif ialah untuk menilai prestasi siswa, sampai dimana penguasaan siswa
terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan selam jangka waktu tertentu.
Kegunaannya yaitu untuk mengisi rapor, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan
lulus tidaknya siswa pada ujian akhir sekolah. Oleh karena itu pada umumnya
jumlah item atau soal-soal tes sumatif lebih banyak daripada item tes formatif,
dan bentuk soalnya pun dapat terdiri atas campuran beberapa bentuk item tes
(seperti true-false, multiple, choice, completion, matching, dan essay).
Cara pengolahan hasil tes sumatif yaitu yang relatif yang digunakan yaitu
nilai-nilai standar seperti nilai berskala 1-10, nilai Z (skor standar Z), atau
persentile. Skor mentah yang diperoleh seorang siswa dari suatu tes sumatif
yang terdiri atas beberapa macam bentuk tes merupakan jumlah skor dari
tiap-tiap bentuk tes tersebut yang telah dihitung menurut rumus masing-masing.
Skor mentah inilah yang kemudian ditransformasikan kedalam nilai skala 1-10
dengan menyusun tabel distribusi frekuensi.
Tes sumatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
materi yang di ujikan meliputi seluruh
pokok bahasan dan tujuan pengajaran
dalam satu program tahunan atau
semester
di lakukan pada akhir program dalam satu tahun atau semester
di lakukan pada akhir program dalam satu tahun atau semester
bertujuan untuk mengukur
kebaerhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh
hasil penilaian sumatuf di gunakan
antara lain untuk menentukan kenaikan kelas,
kelulusan sekolah dan lain-lain.
D. PENYUSUNAN SOAL BENTUK TES TULIS
1. Dasar-Dasar Penyusunan Tes
Tertulis
Tes harus dapat mengukur apa-apa
yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan
instruksional ynag tercantum di dalam kurikulum yang berlaku.
Tes yang tersusun benar-benar
mewakili bahan yang telah dipelajari.
Tes hendaknya disesuaikan dengan
aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan.
Tes hendaknya disusun sesuai
dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri, karena tes dapat disusun untuk
keperluan : pretes/postes, materi tes, tes diagnostic, tes prestasi belajar,
tes formatif, dan tes sumatif.
Tes hendaknya dapat diguankan
untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
Tes yang disusun
mempertimbangkan proporsi tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan taraf
kemampuan siswa.
Petunjuk pengerjaan
soal jelas dan sesuai dengan persoalan
yang disajikan.
Tes disusun dengan
mempertimbangkan kaidah-kaidah penulisan soal pada
masing-masing jenis soal.
Penulisan soal menggunakan
bahasa yang benar.
2. Cara Penyusunan Bentuk Soal
Tes Tulis
Ada dua
bentuk penyusunan soal tes tertulis, yaitu:
1. Soal dengan memilih jawaban.
Seperti pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah, ya-tidak),
dan menjodohkan.
a. Pilihan Ganda (multiple
choice test)
Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan
memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak
mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang
benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta
didik akan menerka. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak
belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat
penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak
menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.Keunggulan soal bentuk
pilihan ganda diantaranya adalah dapat mengukur kemampuan / perilaku secara
objektif.
b. Soal dengan Dua Pilihan
Jawaban (Benar-Salah, Ya-Tidak)
Bentuk soal dua pilihan
jawaban (true-false) ini menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan
jawaban yaitu benar dan salah atau ya dan tidak. Bentuk benar salah ada
dua macam (dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yakni :
Dengan
pembetulan (with correction) yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih
jawaban yang salah.
Tampa
pembetulan (without correction) yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B
atau tanpa memberikan jawaban yang benar.
Kaedah penulisan soal
dengan dua pilihan yaitu :
a) Hindari penggunaan kata terpenting, selalu, tidak
pernah, hanya sebagian besar dan kata lainnya yang sejenis, karena dapat
membingungkan peserta tes.
b) Jumlah rumusan pernyataan butir soal hendaknya relatife
sama.
c) Hindari pernyataan negative! Contoh: (B-S)
Haji bukanrukun islam
d) Hindari penggunaan kata yang dapat menimbulkan
penafsiran ganda! Contoh: (B-S) Banyak anak sekolah yang
terlibat tawuran
e) Hindari pengambilan kalimat langsung dari buku
teks, hal ini cenderung membuat peserta tes untuk menghafal daripada memahami
dan menguasai konsep.
Kebaikan tes benar
salah :
Dapat mencakup bahan yang luas
dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya
singkat saja.
Mudah menyusunnya.
Dapat digunakan berkali-kali.
Dapat dilihat secara cepat dan
objektif
Petunjuk cara mengerjakaannya
mudah dimengerti.
Kekurangan tes benar
salah :
Sering membingungkan.
Mudah ditebak atau diduga.
Banyak masalah yang tidak dapat
dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah.
Hanya dapat mengungkap daya ingatan
dan pengenlan kembali.
c. Bentuk Soal Menjodohkan
(matching)
Bentuk soal menjodohkan yaitu bentuk soal yang memasangkan kalimat satu
dengan kalimat lain yang merupakan jawaban dari kalimat tersebut (memiliki
hubungan satu sama lain). Soal bentuk menjodohkan (matching) adalah
bentuk soal yang terdiri atas dua kelompok pernyataan. Lajur sebelah kiri
merupakan soal atau pernyataan, sedangkan lajur sebelah kanan merupakan jawaban
atau respon.
Kaidah penulisan soal
menjodohkan adalah sebagai berikut :
Tulislah seluruh pernyataan soal
disebelah kiri!
Tuliskan seluruh pernyataan jawaban
disebelah kanan!
Beri petunjuk yang baik berdasarkan
pencocokan!
Buat semua jawaban masuk akal!
Jawaban harus pendek
Pernyataan jawaban harus lebih banyak
daripada pernyataan soal
2. Soal dengan mensuplai-jawaban. Seperti isian
atau melengkapi,jawaban singkat atau pendek, dan soal uraian.
a. Bentuk Soal melengkapi
Soal melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan
jawaban atau melengkapi tes berupa kata, frase, angka atau symbol.
Kaidah penulisan soal
melengkapi :
Dalam membuat pertanyaan jangan
terlalu banyak kata yang dihilangkan
Jawaban yang diinginkan benar-benar
dibatasi
Jika pernyataan memerlukan jawaban
berupa angka, nyatakan dalam satuan-satuan tertentu
Jangan mengambil langsung dari buku
teks
Contoh soal :
1. Piso Surit dan Sengko adalah
lagu-lagu daerah dari propinsi mana?
…………..
2. Air akan membeku pada suhu ……….
Derajat Fahrenheit
b. Bentuk Soal Tes Jawaban Singkat Atau Pendek
Soal bentuk jawaban singkat adalah soal yang jawabannya ditandai dengan
adanya tempat kosong yang disediakan bagi pembuat tes untuk menuliskan
jawabannya sesuai dengan petunjuk.
Kaidah Penulisan tes
jawaban singkat
Soal
harus sesuai dengan indicator
Jawaban
yang benar hanya satu
Rumusan
kalimat soal harus komunikatif
Butir
soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
Tidak
menggunakan bhasa local
Contoh soal bentuk
melengkapi (completion)/jawaban singkat.
umrah sering disebut dengan…………….
Presiden RI saat ini ialah………………..
umrah sering disebut dengan…………….
Presiden RI saat ini ialah………………..
c. Bentuk Soal Uraian
Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta
didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal
yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan
tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri.
Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan
pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan.
3. Ciri-Ciri Tes
Tes yang baik memiliki kriteria atau ciri-ciri. Ciri-ciri tes yang baik
yaitu:
a. Validitas
Jika data yang
dihasilkan oleh instrumen benar dan valid, sesuai dengan kenyataan. Maka
instrumen yang digunakan tersebut juga valid. Sebuah tes disebut valid apabila
tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur.
b. Reliabilitas
Kata reabilitas dalam
bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal
dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Jika dihubungkan dengan
validitas maka validitas adalah ketepatan sedangkan reliabilitas adalah
ketetapan.
c. Objektivitas
Sebuah tes dikatakan
memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor
subjektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.
Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan
dalam hasil tes.
d. Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan
memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat
praktis (mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya), mudah pengadministrasiaanya.
e. Ekonomis
Yang dimaksud dengan
ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan
ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Tes tulis merupakan bentuk instrumen penilaian yang biasa di lakukan di
setiap kegiatan penilaian. Penilaian tes tulis perlu di pelajari karena
masing-masing bentuk penilaian tes tulis mempunyai bentuk yang berbeda.
Misalnya, seorang pendidik ingin menfadakan UTS, maka pendidik dapat membuat
soal dalam bentuk pilihan ganda karena bentuk instrumen ini mudah dalam
pengoreksiannya.
Macam-macam penilaian
tes tulis (bentuk instrumen) meliputi:
tes
benar salah
tes
menjodohkan
tes
pilihan ganda
tes
melengkapi
uraian
objektif dan non objektif (uraian bebas)
dan
tes jawaban singkat.
Tes mempunyai dua fungsi yaitu fungsi formatif dan fungsi
sumatif. Ciri-ciri tes yang baik yaitu:
Validitas
Reliabilitas
Objektivitas
Praktikabilitas
Ekonomis
Dalaam hal pekerjaan menskor atau menentukan angka, dapat digunakan tiga
alat bantu yaitu :
1. Pembantu menentukan jawaban yang
benar, disebut kunci jawaban.
2. Pembantu menyeleksi jawaban yang
benar dan yang salah, disebut kunci skoring.
3. Pembantu menentukan angka, disebut
pedoman penilaan.