Kamis, 23 Februari 2017



PENILAIAN PENGETAHUAN TERTULIS PADA KURIKULUM KTSP
BAB 1
PENDAHULUAN
A.  LATAR BELAKANG
Proses terakhir dalam kegiatan organisasi adalah penilaian atau evaluasi. evaluasi adalah kegiatan penilaian dan pengukuran yang berupa kegiatan mengumpulkan dan mengolah informasi tentang bekerjanya sesuatu, yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil suatu keputusan untuk langkah berikutnya.
Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mempunyai tujuan, tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan kemampuan atau perilaku yang diharapkan dimiliki siswa setelah menyelesaikan kegiatan belajar. Untuk mengetahui tercapai tidaknya tujuan pengajaran serta kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan, perlu dilakukan suatu usaha penilaian atau evaluasi terhadap hasil belajar siswa. Kegunaan evaluasi dalam proses pendidikan adalah untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah menguasai tujuan pelajaran yang telah ditetapkan, juga dapat mengetahui bagian-bagian mana dari program pengajaran yang masih lemah dan perlu diperbaiki. Salah satu cara yang digunakan dalam evaluasi diantaranya dengan menggunakan teknik pengumpulan data tes, melalui tes kita dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menerima pelajaran yang telah diberikan.
Tahapan pelaksanaan evaluasi proses pembelajaran adalah penentuan tujuan, menentukan desain evaluasi, pengembangan instrumen evaluasi, pengumpulan informasi/data, analisis dan interpretasi dan tindak lanjut. Instrumen evaluasi hasil belajar untuk memperoleh informasi deskriptif dan/atau informasi judgemantal dapat berwujud tes maupun non-test. Tes dapat berbentuk obyektif atau uraian; sedang non-tes dapat berbentuk lembar pengamatan atau kuesioner. Tes obyektif dapat berbentuk jawaban singkat, benarsalah,menjodohkan dan pilihan ganda dengan berbagai variasi : biasa, hubungan antar hal, kompleks, analisis kasus, grafik dan gambar tabel. Untuk tes uraia yang juga disebut dengan tes subyektif dapat berbentuk tes uraian bebas, bebas terbatas, dan terstruktur. Selanjutnya untuk penyusunan instrumen tes atau nontes, seorang guru harus mengacu pada pedoman penyusunan masing-masing jenis dan bentuk tes atau non tes agar instrumen yang disusun memenuhi syarat instrumen. yang baik, minimal syarat pokok instrumen yang baik, yaitu valid (sah) dan reliable (dapat dipercaya).
Seorang guru yang baik perlu memiliki keterampilan untuk mengembangkan berbagai bentuk instrumen guna mengukur ketercapaian kopetensi siswa dalam makalah ini kami akan memfokuskan pembahasan tentang “Pengembangan Instrumen Penilaian Tes Tulis” sehingga kita bisa mengetahui dan membedakan berbagai instrumen penilaian tes tulis.

B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana instrumen tes tulis ?
2.      Kompenen atau kelengkapan beserta hal-hal apa saja yang harus dilakukan sebelum tes
         tulis berlangsung?
3.      Apakah tes tulis itu ?
4.      Kompenen dan langkah-langkah apa saja dalam pembuatan kisi-kisi tes tulis ?
5.      Sebutkan fungsi tes dan bagaimana cara penilaiannya ?
6.      Bagaimana cara penyusunan bentuk tes tulis itu ?
7.      Apa kelebihan dan kekurangan dari tes tulis ?

C.  TUJUAN PEMBAHASAN
Tujuan pembahasan makala ini adalah agar kita dapat mengetahuibagaimana pengembangan dan penilaian dari tes tulis itu, sehingga kita dapat mengetahui  berbagai aspek atau kelengkapan dalam pembuatan soal dan cara penilaian dalam tes tulis. Dan diharapkan makala ini dapat membantu dalam pembuatan soal tes tulis dan bagaimana cara menentukan penilaiannya untuk kita sebagai calon pendidik. Dalam makala ini juga membahas tentang masing-masing kelebihan dan kekurangan yang terdapat dalam tes tulis. Semoga malakah ini bisa bermanfaat.













BAB II
PEMBAHASAN

A.   PENILAIAN TES TULIS
1.    Komponen atau Kelengkapan Sebelum Tes Terdiri Atas :
a.    Buku tes, yakni lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan
      oleh siswa.
b.    Lembaran jawaban tes, yaitu lembaran yang disediakan bagi testee untuk mengerjakan tes.
       Untuk soal bentuk pilihan ganda biasanya dibuatkan lembaran nomer dan huruf a, b, c, d.
       Menurut banyaknya alternatif yang disediakan.
c.    Kunci jawaban tes, berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat
       berupa huruf-huruf yang dikehendaki. Untuk tes bentuk uraian yang dituliskan adalah kata- 
       kata kunci ataupun kalimat singkat untuk memberikan ancar-ancar jawaban. Ide daripada
       adanya kunci jawaban ini adalah agar :
      Pemeriksaan tes dapat dilakukan oleh orang lain.
      Pemeriksaannya benar.
      Dapat dilakukan dengan mudah.
      Sedikit mungkin masuknya unsur subjektif
d.   Pedoman penilaian (pedoman skoring), berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.
2.    Hal-hal yang harus di lakuakn sebelum menulis soal tes tulis
sebelum menulis soal maka hal-hal yang harus di lakukan diantaranya yaitu:
      menentukan tujuan tes
      menyusun kisi-kisi soal
      penulisan soal
      pemberian skor
      pelaporan hasil tes         
Contoh pedoman penilaiaan :
      Tiap soal diberi skor 1.
Jumlah skor : 1x10 = 10.
      Tiap soal diberi skor 2.
Julah skor : 2x5 = 10
      Jumlah skor 20
Skor maksimum 40

B.  TES TULIS
1.    Pengartian Tes Tulis
Tes secara harfiah berasal dari bahasa perancis kuno “testum” artinya piring untuk menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur ketrampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau kelompok.
Tes juga dapat didefinisikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab atau pertanyaan yang harus dipilih dengan tujuan untuk mengukur aspek perilaku tertentu dari orang yang dikenai tes.
Tes Tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai, menggambar dan lain sebagainya. Tes tulis merupakan suatu tes yang menuntut siswa memberikan jawaban secara tertulis.
Tes tertulis mempunyai dua macam yaitu yang pertama Tes obyektif  (tes tertulis yang menuntut siswa memilih jawaban yang telah disediakan atau memberikan jawaban singkat dan  terbatas), yang kedua yaitu Tes Subjektif/Essai (tes tertulis yang meminta siswa memberikan jawaban berupa uraian atau kalimat yang panjang-panjang. Panjang pendeknya tes essai adalah relatif, sesuai kemampuan si penjawab tes).
2.    Komponen Kisi-Kisi Tes Tulis
Sebelum menulis soal tes tulis, salah satu hal yang harus dilakukan adalah menysun kisi-kisi tes. Kisi-kisi tes atau blue print, table of specification, lay-out, plan, or frame work berfungsi sebagai pedoman dalam penulisan soal dan perakitan tes.
Komponen kisi-kisi tes yaitu :
       Jenis sekolah/kelas/semester
       Mata pelajaran
       Kurikulum yang diacu
       Alokasi waktu
       Jumlah soal
       Bentuk soal
       Bahan-bahan pengajaran yang akan diukur
       Jenis kompetensi yang akan diukur (ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, evaluasi)
       Banyaknya soal yang akan disusun untuk masing-masing bahan pengajaran dan kompetensi/aspel intelektual yang akan diukur.
       Bentuk soal
       Tingkat kesukaran masing-masing soal.
3.    Langkah-Langkah Pembuatan Kisi-Kisi
Langkah-langkah pembuatan/pengisian kisi-kisi, yaitu :
       Mendaftar  pokok-pokok  materi  yang  akan  diteskan  (berdasarkan silabus)
       Memberikan imbangan bobot/presentase untuk masing-masing pokok materi (berdasarkan pada luas dan tingkat kedalaman materi)
       Merinci banyaknya butir soal (proporsi jumlah item) untuk tiap-tiap materi.
       Menentukan proporsi/prosentase untuk setiap pokok aspek intelektual yang diukur bagi
          setiap pokok-pokok materi (perhatikan homogenitas dan heterogenitas bahan).
       Mengisi sel-sel dalam kisi-kisi
       Pemberian nomor item.

C.  FUNGSI TES DAN CARA PENILAIANNYA
Tes mempunyai dua fungsi yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif.
1.    Tes Formatif
Tes formatif adalaah tes yang diberikan kepada murid-murid pada setiap akhir program satuan pelajaran. Fungsinya yaitu untuk mengetahui sampai dimana pencapaian hasil belajar murid dalam penguasaan bahan atau materi pelajaran yang telah diberikan sesuai dengan tujuan instruksional khusus yang telah dirumuskan di dalam satuan pelajaran.
Dalam penilaian formatif ini, jika tujuan-tujuan instruksional khusus telah dirumuskan dengan tepat, distribusi tingkat kesukaran soal-soal (item tes) dan daya pembeda masing-masing soal tidak begitu penting. Yang penting adalah bahwa setiap soal betul-betul mengukur tujuan instruksional yang hendak dicapai yang telah dirumuskan di dalam progam satuan pelajaran.
Standar yang digunakan dalam mengolah hasil tersebut adalah standar mutlak. Dengan menggunakan standar mutlak dimaksudkan bahwa tes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tujuan-tujuan instruksional khusus telah dicapai oleh siswa, dan bukan untuk mengetahui status setiap siswa dibandingkan dengan siswa-siswa lainnya dalam kelas yang sama.


 Ada dua jenis pengolahan yang diperlukan di dalam penilaian formatif ini, yaitu :
1)   Pengolahan untuk mendapatkan angka presentase siswa yang gagal dalam setiap soal, misalnya :

Soal Nomer
% siswa yang gagal
1
30 %
2
85 %
3
60 %
dan sebagainya
dan seterusnya

Untuk soal bentuk uraian, pengertian “siswa yang gagal” di atas dapat pula diartikan sebagai siswa yang jawabannya terhadap suatu soal dipandang kurang memuaskan..
2)   Pengolahan untuk mendapatka hasil yang dicapai setipa siswa dalam tes secara keseluruhan ditinjau dari presentase jawaban yang memuaskan, misalnya :
Nama Siswa
Hasil yang dicapai
( % jawaban yang memuaskan)
1.      Iswa
90 %
2.      Jamilah
60 %
3.      Nurwiyatsih
75 %
dan seterusnya
dan seterusnya

Sebagai contoh. Bila skor maksimum yang harus dicapai dalam suatu tes adalah 60, angka yang dicapai Iswa dalam tes tersebut adalah :
Dengan kata lain, cara menilai tes formatif dilakukan dengan percentages correction (hasil yang dicapai setiap siswa dihitung dari persentase jawaban yang benar).
Keteranagan :        
S = niali yang diharapkan
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar
N = skor maksimum dari tes tersebut
Tes formatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
         dilakukan pada saat berlangsungnya proses belajar mengajar
         di lakukan secara periodik
         mencakup semua mata pelajaran yang telah di ajarkan
         bertujuan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan proses belajar mengajar
         dapat di gunakan untuk memperbaiki dan menyempurnakan proses belajar mengajar.
2.    Tes Sumatif
Tes sumatif biasanya diadakan tiap caturwulan sekali atau setiap semester (yang baik adalah setip jangka waktu tertentu bila suatu unit atau bagian bahan pelajaran telah selesai diajarkan melalui satuan-satuan pelajaran). Fungsi tes sumatif ialah untuk menilai prestasi siswa, sampai dimana penguasaan siswa terhadap bahan pelajaran yang telah diajarkan selam jangka waktu tertentu. Kegunaannya yaitu untuk mengisi rapor, penentuan kenaikan kelas, dan penentuan lulus tidaknya siswa pada ujian akhir sekolah. Oleh karena itu pada umumnya jumlah item atau soal-soal tes sumatif lebih banyak daripada item tes formatif, dan bentuk soalnya pun dapat terdiri atas campuran beberapa bentuk item tes (seperti true-false, multiple, choice, completion, matching, dan essay).
Cara pengolahan hasil tes sumatif yaitu yang relatif yang digunakan yaitu nilai-nilai standar seperti nilai berskala 1-10, nilai Z (skor standar Z), atau persentile. Skor mentah yang diperoleh seorang siswa dari suatu tes sumatif yang terdiri atas beberapa macam bentuk tes merupakan jumlah skor dari tiap-tiap bentuk tes tersebut yang telah dihitung menurut rumus masing-masing. Skor mentah inilah yang kemudian ditransformasikan kedalam nilai skala 1-10 dengan menyusun tabel distribusi frekuensi.
Tes sumatif mempunyai karakteristik sebagai berikut:
      materi yang di ujikan meliputi seluruh pokok bahasan dan tujuan pengajaran
      dalam satu program tahunan atau semester
    di lakukan pada akhir program dalam satu tahun atau semester
      bertujuan untuk mengukur kebaerhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh
      hasil penilaian sumatuf di gunakan antara lain untuk menentukan kenaikan kelas,  
         kelulusan sekolah dan lain-lain.

D.  PENYUSUNAN SOAL BENTUK TES TULIS
1.    Dasar-Dasar Penyusunan Tes Tertulis
       Tes harus dapat mengukur apa-apa yang dipelajari dalam proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan instruksional ynag tercantum di dalam kurikulum yang berlaku.
       Tes yang tersusun benar-benar mewakili bahan yang telah dipelajari.
       Tes hendaknya disesuaikan dengan aspek-aspek tingkat belajar yang diharapkan.
       Tes hendaknya disusun sesuai dengan tujuan penggunaan tes itu sendiri, karena tes dapat disusun untuk keperluan : pretes/postes, materi tes, tes diagnostic, tes prestasi belajar, tes formatif, dan tes sumatif.
       Tes hendaknya dapat diguankan untuk memperbaiki proses belajar mengajar.
       Tes yang disusun mempertimbangkan proporsi tingkat kesulitan dan kesesuaiannya dengan taraf kemampuan siswa.
       Petunjuk  pengerjaan  soal  jelas  dan  sesuai  dengan  persoalan  yang disajikan.
       Tes  disusun  dengan  mempertimbangkan  kaidah-kaidah  penulisan  soal pada masing-masing jenis soal.
       Penulisan soal menggunakan bahasa yang benar.

2.    Cara Penyusunan Bentuk Soal Tes Tulis
Ada dua bentuk penyusunan soal tes tertulis, yaitu:
1.    Soal dengan memilih jawaban. Seperti pilihan ganda, dua pilihan (benar-salah, ya-tidak), dan  menjodohkan.
a.    Pilihan Ganda (multiple choice test)
Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri jawabannya tetapi cenderung hanya memilih jawaban yang benar dan jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta didik akan menerka. Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya. Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang sesungguhnya.Keunggulan soal bentuk pilihan ganda diantaranya adalah dapat mengukur kemampuan / perilaku secara objektif.
b.   Soal dengan Dua Pilihan Jawaban (Benar-Salah, Ya-Tidak)
Bentuk soal dua pilihan jawaban (true-false) ini menuntut peserta tes untuk memilih dua kemungkinan jawaban yaitu benar dan salah atau ya dan tidak. Bentuk benar salah ada dua macam (dilihat dari segi mengerjakan/menjawab soal), yakni :
      Dengan pembetulan (with correction) yaitu siswa diminta membetulkan bila ia memilih jawaban yang salah.
      Tampa pembetulan (without correction) yaitu siswa hanya diminta melingkari huruf B atau tanpa memberikan jawaban yang benar.
Kaedah penulisan soal dengan dua pilihan yaitu :
a)    Hindari penggunaan kata terpenting, selalu, tidak pernah, hanya sebagian besar dan kata lainnya yang sejenis, karena dapat membingungkan peserta tes.
b)   Jumlah rumusan pernyataan butir soal hendaknya relatife sama.
c)    Hindari pernyataan negative! Contoh: (B-S) Haji bukanrukun islam
d)   Hindari penggunaan kata yang dapat menimbulkan penafsiran ganda! Contoh: (B-S) Banyak anak sekolah yang terlibat tawuran
e)    Hindari pengambilan kalimat langsung dari buku teks, hal ini cenderung membuat peserta tes untuk menghafal daripada memahami dan menguasai konsep.
Kebaikan tes benar salah :
       Dapat mencakup bahan yang luas dan tidak banyak memakan tempat karena biasanya pertanyaan-pertanyaannya singkat saja.
       Mudah menyusunnya.
       Dapat digunakan berkali-kali.
       Dapat dilihat secara cepat dan objektif
       Petunjuk cara mengerjakaannya mudah dimengerti.
Kekurangan tes benar salah :
      Sering membingungkan.
      Mudah ditebak atau diduga.
      Banyak masalah yang tidak dapat dinyatakan hanya dengan dua kemungkinan benar atau salah.
      Hanya dapat mengungkap daya ingatan dan pengenlan kembali.
c.    Bentuk Soal Menjodohkan (matching)
Bentuk soal menjodohkan yaitu bentuk soal yang memasangkan kalimat satu dengan kalimat lain yang merupakan jawaban dari kalimat tersebut (memiliki hubungan satu sama lain). Soal bentuk menjodohkan (matching) adalah bentuk soal yang terdiri atas dua kelompok pernyataan. Lajur sebelah kiri merupakan soal atau pernyataan, sedangkan lajur sebelah kanan merupakan jawaban atau respon.
Kaidah penulisan soal menjodohkan adalah sebagai berikut :
      Tulislah seluruh pernyataan soal disebelah kiri!
      Tuliskan seluruh pernyataan jawaban disebelah kanan!
      Beri petunjuk yang baik berdasarkan pencocokan!
      Buat semua jawaban masuk akal!
      Jawaban harus pendek
      Pernyataan jawaban harus lebih banyak daripada pernyataan soal

2.    Soal dengan mensuplai-jawaban. Seperti isian atau melengkapi,jawaban singkat atau pendek, dan soal uraian.
a.    Bentuk Soal melengkapi
Soal melengkapi adalah soal yang menuntut peserta tes untuk memberikan jawaban atau melengkapi tes berupa kata, frase, angka atau symbol.
Kaidah penulisan soal melengkapi :
      Dalam membuat pertanyaan jangan terlalu banyak kata yang dihilangkan
      Jawaban yang diinginkan benar-benar dibatasi
      Jika pernyataan memerlukan jawaban berupa angka, nyatakan dalam satuan-satuan tertentu
      Jangan mengambil langsung dari buku teks 
Contoh  soal :
1.      Piso Surit dan Sengko adalah lagu-lagu daerah dari propinsi mana?
…………..
2.      Air akan membeku pada suhu ………. Derajat Fahrenheit

b.   Bentuk Soal Tes Jawaban Singkat Atau Pendek
Soal bentuk jawaban singkat adalah soal yang jawabannya ditandai dengan adanya tempat kosong yang disediakan bagi pembuat tes untuk menuliskan jawabannya sesuai dengan petunjuk.
Kaidah Penulisan tes jawaban singkat
      Soal harus sesuai dengan indicator
      Jawaban yang benar hanya satu
      Rumusan kalimat soal harus komunikatif
      Butir soal menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
      Tidak menggunakan bhasa local
Contoh soal bentuk melengkapi (completion)/jawaban singkat.
umrah sering disebut dengan…………….
Presiden RI saat ini ialah………………..
c.    Bentuk Soal Uraian
Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari, dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan. 

3.    Ciri-Ciri Tes
Tes yang baik memiliki kriteria atau ciri-ciri. Ciri-ciri tes yang baik yaitu:
a.    Validitas
Jika data yang dihasilkan oleh instrumen benar dan valid, sesuai dengan kenyataan. Maka instrumen yang digunakan tersebut juga valid. Sebuah tes disebut valid apabila tes itu dapat tepat mengukur apa yang hendak diukur.
b.    Reliabilitas
Kata reabilitas dalam bahasa Indonesia diambil dari kata reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata reliable yang artinya dapat dipercaya. Jika dihubungkan dengan validitas maka validitas adalah ketepatan sedangkan reliabilitas adalah ketetapan.
c.    Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya. Apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka objektivitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
d.   Praktikabilitas
  Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat  
  praktis  (mudah dilaksanakan, mudah pemeriksaannya), mudah pengadministrasiaanya.
e.    Ekonomis
  Yang dimaksud dengan ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak  
   membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.










BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Tes tulis merupakan bentuk instrumen penilaian yang biasa di lakukan di setiap kegiatan penilaian. Penilaian tes tulis perlu di pelajari karena masing-masing bentuk penilaian tes tulis mempunyai bentuk yang berbeda. Misalnya, seorang pendidik ingin menfadakan UTS, maka pendidik dapat membuat soal dalam bentuk pilihan ganda karena bentuk instrumen ini mudah dalam pengoreksiannya.
Macam-macam penilaian tes tulis (bentuk instrumen) meliputi:
         tes benar salah
         tes menjodohkan
         tes pilihan ganda
         tes melengkapi
         uraian objektif dan non objektif (uraian bebas)
         dan tes jawaban singkat.
Tes mempunyai dua fungsi yaitu fungsi formatif dan fungsi sumatif. Ciri-ciri tes yang baik yaitu:
         Validitas
         Reliabilitas
         Objektivitas
         Praktikabilitas
         Ekonomis
Dalaam hal pekerjaan menskor atau menentukan angka, dapat digunakan tiga alat bantu yaitu :
1.      Pembantu menentukan jawaban yang benar, disebut kunci jawaban.
2.      Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah, disebut kunci skoring.
3.      Pembantu menentukan angka, disebut pedoman penilaan.