Jumat, 24 November 2017

inovasi kurikulum

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT karena atas Rahmat dan Karunia-Nya makalah yang berjudul “Inovasi Kurikulum” ini dapat terselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Penulisan laporan ini merupakan salah satu tugas yang diberikan oleh dosen mata kuliah Kurikulum danDesain Pembelajaran.
Penulisan laporan ini, penulis yang masih dalam proses pembelajaran menyadari bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu, penulis menerima saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan makalah kami. Akhir kata kami sampaikan terimakasih.

                                                                             Jambi                               2016                                                      

                                               
                                                                                           Penulis

















DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
1.1    Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2    Rumusan Masalah ......................................................................... 2
1.3    Tujuan ........................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 3
            2.1 Pengertian Inovasi Kurikulum ....................................................... 3
            2.2 Ciri-Ciri Inovasi Kurikulum ........................................................... 6
            2.3 Hambatan-Hambatan dalam Inovasi Kurikulum ........................... 10
            2.4 Jenis-Jenis Inovasi dalam Pembelajaran ......................................... 18
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 25
3.1 Kesimpulan .................................................................................... 25
3.2 Saran .............................................................................................. 26
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 27

















BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Seiring dengan perkembangan zaman dan perkembangan IPTEK, masyarakat telah mengalami perubahan pada setiap aspek kehidupannya.Perubahan adalah suatu bentuk yang wajar terjadi, bahkan para filosof berpendapat  bahwa tidak ada satupun di dunia ini yang abadi kecuali perubahan.
Perkembangan pendidikan pun akan berjalan seiring dengan dinamika masyarakatnya.Perkembangan pendidikan mempunyai kaitan yang erat dengan kurikulum. Bagaimanapun, kurikulum sangat berperan penting dalam suatu pendidikan karena kurikulum merupakan kegiatan yang mencakup berbagai rencana kegiatan pesertadidik yang terperinci  dan hal-hal yangmencakup pada kegiatan yang bertujuan untuk  mencapai tujuan yang diinginkan.
Seiring dengan berkembangnya dunia pendidikan, kurikulum pun harus dapat menyesuaikannya. Namun dalam prakteknya di lapangan, seringkali kurikulum dijadikan objek penderita, dalam pengertian bahwa ketidakberhasilan suatu pendidikan diakibatkan terlalu seringnya kurikulum tersebut berubah. Padahal, seharusnya dipahami bahwa kurikulum seyogyanya dinamis, harus berubah mengikuti perubahan yang terjadi dalam masyarakatnya.
Semua perubahan akan membawa resiko, tetapi strategi mempertahankan struktur suatu kurikulum tanpa perubahan akan membawa bencana dan malapetaka, sebab mengkondisikan kurikulum dalam posisi status quo menyebabkan pendidikan tertinggal dan generasi bangsa tersebut tidak dapat mengejar kemajuan yang diperoleh melalui perubahan.
Dengan demikian, Inovasi kurikulum yang merupakan suatu gagasan atau praktek kurikulum baru dengan mengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum terdahuluselalu dibutuhkan, untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak hanya terbatas masalah pendidikan tetapi juga masalah-masalah yang mempengaruhi kelancaran proses pendidikan.
1.2  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan inovasi kurikulum?
2.      Bagaimana masalah pendidikan sebagai sumberi inovasi?
3.      Bagaimana difusi dan keputusan inovasi?
4.      Apakah hambatan-hambatan inovasi?
5.      Apakah jenis inovasi dalam kurikulum dan pembelajaran ?

1.3  Tujuan
1.      Mengetahui  inovasi kurikulum
2.      Mengetahui masalah pendidikan sebagai sumber inovasi
3.      Mengetahui difusi dan keputusaninovasi
4.      Megetahui hambatan-hambatan inovasi
5.      Mengetahui jenis inovasi dalam kurikulum dan pembelajaran

























BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1.     Pengertian inovasi
Inovasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang baru dalam situasi social tertentu yang digunakan untuk menjawab atau memecahkan suatu permasalahan. Dilihat dari bentuk atau wujudnya “sesuatu yang baru” itu dapat berupa ide, gagasan, benda atau mungkin tindakan. Sedangkan dilihat dari maknanya, sesuatu yang baru itu bias benar-benar baru yang belum tercipta sebelumnya yang kemudian disebut denan invention, atau dapat juga tidak benar-benar baru sebab sebelumnya sudah ada dalam konteks social yang lain yang kemudian disebut dengan istilah discovery. Proses invention, misalkan penerapan metode atau pendekatan pembelajaran yang benar-benar baru dan belum dilaksanakan di mana pun untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran, contohnya berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kita dapat mendesain pembelajaran melalui Hand Phone yang selama ini belum ada, sedangkan proses discovery, misalkan  pemggunaan model pembelajaran inkuiri dalam pembelajaran IPA di Indonesia untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam mata pelajaran tersebut, yang sebenarnya model pembelajaran tersebut sudah dilaksanakan di negara-negara lain, atau pembelajaran melalui jaringan internet. Jadi dengan demikian inovasi itu dapat terjadi melalui proses invention atau melalui proses discovery.
Merujuk kepada penjelasan diatas, maka inovasi kurikulum dan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah pendidikan.
Dalam bidang pendidikan, inovasi biasanya muncul dari adanya keresahan pihak-pihak tertentu tentang penyelenggaraan pendidikan. Misalkan, keresahan guru tentang pelaksanaan proses belajar mengajar yang dianggapnya kurang berhasil keresahan pihak administrator pendidikan tentang kinerja guru atau mungkin keresahan masyarakat terhadap kinerja dan hasil bahkan sistem pendidikan. Keresahan-keresahan itu pada akhirnya membentuk permasalahan-permasalahan yang menuntut penanganan dengan segera. Upaya untuk memecahkan masalah itulah muncul gagasan dan ide-ide baru sebagai suatu inovasi. Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa inovasi itu ada karena adanya masalah yang dirasakan, hampir tidak mungkin inovasi muncul tanpa adanya masalah yang dirasakan.
2.2     Masalah pendidikan sebagai sumber inovasi
Ada beberapa masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita. Sekalipun telah diberlakukannya otonomi daerah sebagai konsekuensi penerapan undang-undang nomor 22 tahun 1999, permasalahan itu tampaknya akan tetap ada, bahkan akan semakin kompleks. Masalah tersebut adalah masalah relevansi, masalah kualitas, masalah efektivitas dan efisiensi, masalah daya tamping sekoloah yang terbatas.
1.      Masalah relevansi pendidikan
Maka yang dimaksud dengan tuntutan dan harapan. Dalam konteks pendidikan, relevansi adalah kesesuaian antara pelaksanaan dan hasil pendidikan deengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Masalah relevansi pendidikan ini dapat dilihat dari tiga sisi: pertama, relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup siswa, artinya apa yang diberikan disekolah harus sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan tuntutan masyarakat tempat siswa tinggal. Selama ini kurikulum kita dianggap kurang menyentuh kebutuhan dan keasaan atau kondisi lingkungan siswa. Oleh karena itu, penerapan kurikulum muatan local merupakan sesuatu inovasi dalam kbidang pendidikan untuk memecahkan masalah tersebut. Melalui kurikulum muatan likal, diharapkan apa yang diberikan di sekolah akan menjadi relevan dengan kebutuhjab dan tuntutan ligkungan hidup siswa.
Kedua, relecansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan dating. Relevansi ini mengandung pengertian bahwa isi kurikulum harus mampu menjawab kebutuhan siswa pada masa yang akan dating. Pendidikan bukan hanya berfungsi untuk mengawetkan kebudayaan masa lalu, akan tetapi juga utuk mempersiapkan siswa agar kelak dapat hidup menyesuaikan dengan tuntutan zaman. Oleh karena itu, apa yang diberikan di sekolah harus teruji, bahwa semua itu memiliki nilai guana untuk kehidupan siswa di masa yang akan dating.
Ketiga, relevansi pendidikan dengan tuntutan dunia kerja. Relevansi ini mengandung pengertian bahwa sekolah memiliki tanggung jawab dalam mempersiapkan anak didik yang memiliki keterampilah dan kemampuan sesuai dengan tuntutan dunia kerja. Seperti yang telah disinggunga dalam bagian terdahulu, bahwa salah satu asas pengembangan kurikulum adalah asas sosiologis yang mengandung makna, bahwa kurikulum harus memerhatikan tuntutan dan kebutuhanmasyarakat termasuk tuntutan dunia kerja. Pendidikan berfungsi untuk mendidik manusia yang produktif, yang mampu bekerja dalam bidangnya masing-masing. Pada saat ini seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu banyak bidang-bidang keterampilan yang harus dimiliki anak didik. Dan pada keyataaya salah satu kritikan yang muncul kepermukaan dewasa ini adalah bahwa pendidikan kita dianggap masih sangat lemah dalam mempersiapkan tenaga kerja yang terampil sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia kerja.
Untuk menjawab masalh ini, inovasi pendidikan telah banyak di lakukan. Misalnya, penerapan siseem ganda untuk sekolah-sekolah kejuruan. Melalui system ini siswa tidak hanya dibekali dengan teori-teori akan tetapi dalam kurun waktu tertentu, mereka diharuskan melakukan magang di berbagai tempat seperti pusat-pusat industry yang akan menyerap mereka sebagai tenaga kerja. Dengan system ini deharapkan manakala mereka lulus kelak, mereka sudah paham apa yang harus dikerjakan.


2.      Masalah kualitas pendidikan
Selain masalah relevansi, maka rendahnya kualitas pendidikan jug dianggap sebagai suatu masalh yang dihadapi dunia pendidikan kita dewasa ini. Rendahnya kualitas pendidikan ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama dari segi proses dan kedua dari segi hasil.
Rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari sisi proses, adalah adanya anggapan bahwa selama ini proses pendidikan yang dibanyun oleh guru dianggap cenderung terbatas pada penguasaan materi pelajaran atau bertumpu pada megembangan aspek kognitif tingkat rendah, yang tidak mampu mengembangkan kreativitas berpikir proses pendidian atau proses belajar mengajar dianggap cenderung menempatkan siswa sebagai objek yang harus diisi dengan berbagai informasi dan bahan-bahan hafalan. Komunikasiterjadi satu arah, yaitu dari guru ke siswa melalui pendikatan ekspositori yang dijadikan sebagai alat utama dalam proses pembelajaran.
Dari sisi hasil, rendahnya kualitas pendidikan dapat dilihat dari tidak meretanya setiap sekolah dalam mencapai rata-rata Nilai Ujian Nasional. Ada sekolah yang dapat mencapai rata-rata UN yang tinggi, namun di lain pihak banyak sekolah yang mencapai UN jauh dibawah standar.
Beberapa usaha yang dilakukan untuk memecahkan masalh tersebut diantaranya dingan meningkatkan kualitas guru dan perbaikan kurikulum, seta menyediakan berbagai sarana dan prasarana yang lebih lengkap dan dinggap memadai. Peningkatan kualitas atau mutu guru, di antaranya dengan meningkatkan latar belakang akademis mereka melalui pemberian kesempatan untuk mengikuti program-program pendidikan, serta memberikan penataran-penataran dan pelatihan-pelatihan. Untuk guru SD, SMP, dan SMA misalkan, mereka diharuskan berlatar belakang akademisi S1.
Perbaikan kurikulum dilakukan bukan hanya membuka kemungkinan penambahan isi kurikulum sesuai dengan kebutuhan lingkungan masyarakat lokal, akan tetapi juga inovasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan memperkenalkan penggunaan pendekatan Cara Belajar Siawa Aktif (CBSA), pendekatan keterampilan proses, Contekstual Teaching and Learning dan lain sebagainya.
3.      Masalah efektivitas dan efisiensi.
Efektivitas berhubungan dengan tingkat keberhasilan dengan tingkat keberhasilan pelaksanaan pembelajaran yang didesain oleh guru untuk mencapai tujuan pembelajaran, baik tujuan dalam skla yang sempit seperti tujuan pembelajaran khusus, maupun tujuan dalam skala yang lebih luas, seperti tujuan kurikuler, tujua institusional dan bahkan tujuan nasional. Dengan demikian, dalam konteks kurikulum dan pembelajaran suatu program pembelajaran dikatakan memiliki tingkat efektivitas yang tinggi manakala program tersebut dapat mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Misalkan, untuk mencapai tujuan tertentu, guru memprogramkan 3 bentuk kegiatan belajart mengajar. Manakala berdasarkan hasil evaluasi setelah dilaksanakan program kegiatan belajar mengajar itu, tujuan pembelajaran telah dicvapai oleh seluruh siswa, maka dapat dikatakan bahwa program itu memiliki efektivitas yang tinggi. Sebaliknya, apabila diketahui setelah pelaksanaan proses belajar menajar, siswa belum mampu mencapai tujuan yang diharapkan , maka dapat dikatakan bahwa program tersebut tidak efektif.
Dengan cara yang sama, dapat dilakukan untuk melihat efektivitas program pendidikan dalam upaya mencapai tujuan yang lebih luas, misalkan tujuan institusional. Untuk mencapai tujuan lembaga pendidikan (institusi) tertentu diberikan sejumlah program pendidikan baik program interakulikuler maupun program ekstrakurikuler. Apabila berdasarkan hasil evaluasi terhadap lulusan lembaga pendidikan yang bersangkutan diketahui bahwa setiap lulusan memiliki kebmampuan sesuai dengan tujuan lembaga itu, maka program pendidikan yang dilaksanakan dianggap efektif; dan sebaliknya manakala lulusan tidak mencerminkan kemampuan yang diharapkan, maka program pendidikan yang diselengggarakan oleh lembaga yang bersangkutan dianggap kurang  efektif.
Efisiensi berhubungan dengan jumlah biaya, waktu dan tenaga yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Artinya, sesuatu program pembelajaran dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi, manakala dengan jumlah biaya yang minimal dapat menghasilkan atau dapat mencapai tujuan yang maksimal. Sebaiknya, program dikatakan tidak efesien apaila biaya dan tenaga yang dikeluarkan sangat besar, akan tetapi hasil yang diperoleh kecil. Sehubungan dengan masalah efisiensi ini, sebaiknya setiap guru membuat program yang benar-benar dapat menunjang kertercapaian tujuan pembelajaran. Sekolah dan guru harus menghindari program-program kegiatan yang banyak memerlukan biaya, waktu dan tenaga, padahal kegiatan tersebut tidak atau krang mendukung terhadap pencapaian tujuan pendidikan.
4.      Masalah daya tampung yang terbatas.
Masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah terbatasnya daya tampung sekolah khususnya pada tingkat SLTP. Masalah ini muncul setelah keberhasilan penyelenggaraan SD inpres, yang mengakibatkan meledaknya lulusan sekolah dasar, sehingga menuntut pemerintah untuk menyediakan fasilitas agar dapat menampung para lulusan SD yang hendak melanjutkan ke SLTP.
Keberhasilan program inpres ini juga membawa dampak kepada permasalahan akan banyaknya minat lulusan SD yang hendak melanjutkan ke SLTP, padahal kondisi geografis, social, ekonomi mereka yang kurang mendukung, misalkan karena tempat tinggal mereka yang jauh berada di pedalaman atau pulau-pulau terpencil, atau kemaampuan social ekonomi mereka yang rendah. Untuk memecahkan masalah yang demikian, pemerintah memerlukan langkah-langkah yang inovatif, yaitu langkah yang dapat menyediakan kesempatan belajar seluas-luasnya untuk mereka dengan biaya yang rendah tanpa mengurangi mutu pendidikan.
2.3.      Difusi dan keputusan inovasi
Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi tentang suatu bentuk inovasi antara warga masarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu pula.
Ada dua bentuk system difusi, yaitu difusi sentralisasi dan difusi desentralisasi. Difusi sentralisasi adalah difusi yang bersifat memusat. Artinya segala bentuk keputusan tentang komunikasi inovasi ditentukan oleh orang- orang yang merumuskan bentuk inovasi. Misalnya, kapan inovasi itu disebarluaskan, bagaimana caranya, siapa yang terlubat unutk menyebarkan informasi inovasi, bagaimana mengontrol penyebaran itu, seluruhnya ditentukan oleh pembawa dan perumus perubahan secara spontan. Sedangkan yang dimaksud difusi desentralisasi proses penyebaran itu seluruhnya ditentukan oleh pembawa dan perumus perubahan secara spontan, sedangkan yang dimaksud difusi desentralisasi proses penyebaran informasi inovasi dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Dalam proses difusi desentralisasi keberhasilan difusi tudak ditentukan oleh orang-orang yang merumuskan inovasi akan tetapi sangat ditentukan oleh masyarakat itu sendiri sebagai penggagas dan pelaksana difusi.
Proses difusi diarahkan agar muncul pemahaman yang sama tentang inovasi. Oleh karena itu, agar terjadi proses difusi yang efektf perlu direncanakan. Proses perencanaan difusi dinamakan diseminasi.Dengan kata lain deseminasi dapat diartikan sebagai proses penyebaran inovasi yang direncanakan, diarahkan dan dikelola secara baik, dengan demikian, keberhasilan suatu penyebaraninovasi sangat terbantung kepada prosses diseminasi.
Bagaimana agar terjadi proses difusi sehingga inovasi itu mudah diterima oleh anggota masyarakat atau sasaran inovasi? Hal ini tergantung beberapa faktor di antaranya:
1.      Faktor pembiayaan (Cost). Biasanya semakin murah biaya yang dileluarkan untuk suatu inovasi, maka akan semakin mudah diterima oleh kelompok masyarakat sasaran, walaupun kualitas inovasi itu sendiri sangat ditentukan oleh mahalnya biaya yang dikeluarkan. Misalnya, mengapa PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan) sebagai suatau bentuk inovasi penyelenggaraan system pendidikan tidak dilanjutkan? Hal ini mungkin bukan karena ketidakberhasilan sestem pendidikan etu, akan tetepi terlalu mahalnya embiayaan yang harus dikeluarkan dibandingkan dengan persekolahan biasa.
2.      Risiko yang muncul sebagai akobat pelaksanaan inovasi. Inovasi akan mudah diterima manakala memiliki efek samping yang sangat kecil, baik yang berkaitan dengan polotok maupun keamanan dan keselamatan penerimanya. Suatu inovasi tidak akan mudah dan dapat di ertima apabila memiliki risiko yang tinggi.
3.      Kompleksitas. Inovasi akan mudah diterima oleh masyarakat sasaran maknakala bersifat sederhana dan mudah dikomunikasikan. Semakin rumit bentuk inivasi itru, maka akan semakin sulit juga untuk diterima.
4.      Kompabilitas. Artinya, mudah atau sulutnya suatu invasi diterima oleh masyrakat sasaran ditentukan juga oleh kesesuaianya dengan kebutuhan, tingkat pengetahuan, dan keyakinan masyarakat pemakai. Suatu bentuk inivasi akan sulit diterima manalkala tidak sesuai dengan kebutuhan pemakai atau sulit dipahami karena tidak sesuai dengan tingkat pemgetahuan mereka.
5.      Tingkat keandalan. Suatu bentuk inovasi akan mudah diterima manakala diketahui tingkat keandalannya. Untuk mengetahui tingkat keandalannya itu bentuk inovasi terlebih dahulu harus diujivobakan secara ilmiah sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Tanpaa keandalan yang pasti, orang akan ragu untuk mengadopsinya.
6.      Keterlibatan. Bentuk inovasi yag dalam proses penyusunannya melibatkan kelompok masyarakat sasran, akan mudah diterima. Misalkan untuk pembaruan dalam system pembelajaran, proses penyusunan inovasi melibatkan PGRI sebagai organisasi guru atau melibatkan perwakolan guru-guru tertentu yang dianggap berpengalaman.
7.      Kualitas penyuluh. Inovasi perlu disosialisasikan untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat sasaran. Dalam proses sosilisai itu perlu dirancang sedeminian rupa sehingga  mudah dipahami. Salah satu factor yang menentukan dalam proses sosialisasi adalah factor kualitas penyluh. Kualitas penyuluh ditentukan bukan hanya oleh kemampuan penyuluhnya saja, akan tetapi tingkat keahlian yang bersangkutan. Proses penyuluhan yang dilakukan oleh seseorang yang dianggap kurang berpengalaman, akan sulit meyakinkan madsyarakat sasaran.
Faktor-faktor diatas, sangat mempengaruhi keberhasilan penyebaran dan penerimaan inovasi pendidikan. Oleh karena itu factor-faktor tersebut dapat juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam perumusan berbagai bentuk inovasi pendidikan.
Selanjutnya, bagaimana keputusan masyarakat sasaran dalam menerima suatu inovasi. Ibrahim (1988) menyatakan ada tiga tipe keputusan penerimaan inovasi, yaitu keputusan inovasi opsional, kolektif keputusan otoritas. Keputusan opsional adalah keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain. Jadi dengan demikian, dalam keputusan opsional yang berperan untuk menolah atau menerima inovasi adalah individu itu sendiri.
Keputusan inovasi kolektif adalah keputusan yang didasarkan oleh kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat. Setiap anggota kelompok harus menaati untuk menerima atau menolak inovasi sesuai dengan keputusan kelimpok walaupun keputusan itu mungkin kurang sesuai dengan pendapatnya.
Keputusan inovasi otritas, adalah keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi ditentukan oleh orang-orang tertentu yang memiliki kewenangan dan pengaruh terhadap anggota kelompok masyarakatnya. Anggota kelompok masyarakat sama sekali tidak memiliki kewenangan untuk menerima atau menolak. Mereka hanya memiliki kewajiban untuk melaksanakan segala keputusan secara otoritas. Misalkan, kalau kepala dinas pendidikan mengharuskan semua guru untuk menerapkan metode SAS dalam pembelajaran bahasa, maka setiap guru harus melaksanakannya, walaupun mungkin ada guru yang menganggap metode tersebut kurang pas.
2.4.      Hambatan-hambatan inovasi
Suatu pembaruan atau inovasi sering tidak berhasil dengan optimal. Hal ini desebabkan oleh adanya  berbagai hambatan yang muncul seperti hambatan geografis, hambatan ekonomi yang tidak memadai, hambatan social cultural dan lain sebagainya. Berbagai hambatan tersebut tentu saja dapat memengaruhi keberhasilan suatu inovasi. Ibrahim (1988) mencatat ada 6 faktor utama yang dapat menghambat suatu inovasi. Keenam factor tersebut dijelaskan dibawah ini.

1.       Estimasi yang tidak tepat
Sering terjadi kegagalan suatu inovasi disebabkan kurang matangnya perkiraan atau kemungkinan-kemungkinan yang akan muncul.
Factor estimasi atau perencanaan dalam inovasi merupakan salah satu factor yang sangat berpengaruh terhadap keberhadilan inovasi. Hambatan yang disebabkan kurang teptnya estimasi ini di antaranya mencakup kurang adanya pertimbangan implementasi inovasi, kurang adanya hubungan antarangggota team pelaksana, kurang adanya kesamaan pendapat tentang tujuan yang ingin dicapai, tidak adanya koordinasi antar petugas yang terlibat misalnya, dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan yang dianggap perlu. Disamping itu, dalam proses perencanaan juga mungkin terjadi hambatan yang muncul dari luar, misalnya adanya tekanan dari pihak tertentu (seperti pemerintah) utntuk mempercepat hasil inovasi.
Untuk mencegah adanya hambatan di atas, maka proses menyusun perencanaan inovasi perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh dengan melibatkan koordinasi berbagai pihak yang dirasakan akan berpengaruh. Pengaturan wewenang dan tugas perlu direncanakan dengan matang sehingga setiap orang yang terlibat mengetahui tugas dan tanggung jawabnya masing-masing.
2.       Konflik dan motivasi
Konflik biasa terjadi dalam proses pelaksanaan inovasi, misalny ada pertentangan antara anggota tim, kurang adanya pengertian serta adanya pertentangan antara anggota tim inovasi. Pertentangan-pertentangan seperti itu bukan saja dapat menghambat akan tetapi mungkin dapat merusak proses inovasi itu sendiri. Oleh karena itu, para perancang inovasi harus mengantisipasi adanya pertentangan tersebut. Di samping konflik, factor yang dapat menghambat bias juga ditambah oleh motivasi, misalnya motivasi yang lemah dari orang-orang yang terlibat yang justru memegang kunci, adanya pandangan yang sembit dari beberapa orang yang dianggap penting dalam proyek inovasi, bantuan-bantuan yang tidak sampai, adanya sikap yang tidak terbuka dari pemegang jabatan proyek inovasi dan lain sebagainya.
3.       Inovasi tidak berkembang.
Hambatan lain yang dapat mengganggu berjalannya inovasi dapat disebabakan kurang berkembannya proses inovasi itu sendiri. Beberapa factor yang dapat memengaruhi diantaranya, pendapat yang rendah, factor yang dapat memengaruhi di antaranya, pendapat yang rendah, factor geografis, seperti tidak memahami kkondisi alam., letak geografis yang terpencil dan sulit dijangkau oleh alat transformasi sehingga dapat menghambat pengiriman bahan-bahan financial, kerangnya sarana komuikasi, iklim dan cuaca yang tidak mendukung dan lain sebagainya.
4.       Masalam financial
Keberhasilan pencapaian program inovasi sangat ditentukan oleh dana yang tersidia. Sering terjadi kegagalan inovasi dikarenakan dana yang tidak memadai. Beberapa factor yang dapat menyebabkan maslah financial ni di antaranya, bantuan dana yang sangat minim sehingga dapat mengganggu dalam operasional inovasi, kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan, menundaan bantuan dana.
5.       Penolakan dari kelompok penenu
Ketidakberhasilan inovasi dapat juga ditentukan oleh khususnya kelompok masyarakat yang menentukan seperti golongan elite, tokoh masyarakat dalam suatu system social, manakala terjadi penolakan dari kelompok tersebut terhadap suatu inovasi, maka proses inovasi akan mengalami  ganjalan. Penolakan inovasi sering ditunjukan oleh kelompok social yang tradisional dan konservatif. Kelompok social yang demikian, biasanya merasa puas dengan hasil yang telah diapai, bagaimanapun hasil itu dirasakn sangat minimal. Untuk itulah dalam upaya keberhasiklan inovasi perlu dilakukan sosialisasi dan koordinasi dengan berbagai pihak.

6.       Kurang adanya hubungan social
Factor lainnya yang dapat menghambat proses inovasi adalah kurang adanya hubungan social yang baik antara berbagai pihak khususnya bantar anggota team, sehingga terjadi ketidak harmonisan dalam bekerj. Dengan demikian, adanya hubungan  yang baik harus diciptakan dengan melakukan pertukaran pikiran secara kontinu antara sesame anggota team.

2.5.    Berbagai jenis inovasi dalam kurikulum dan pembelajaran.
Sebagai usaha mengefektifkan pencapaian tujuan pendidikan, pemerintah terus-menerus malakukan berbagai perbaikan dan pembaharuan pendidikan dan kurikulum. Beberapa pembaruan (inovasi) yang telah dilakukan dikemukakan di bawah ini.
1.      Pemberlakuan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP)
Sejak lama bahkan sejak kemerdekaan repblik Indonesia ini, kurikulum di Indonesia disusun secara terpusat. Sekolah kurang bahkan tidak diberi ruang yang ukup untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Sekolah dan tentu saja guru hanya berfungsi sebagai pelaksana kurikulum yang seluruhnya di atur oleh pusat, mullah isi pelajaran, system penilaian bahkan waktu pemberian materi pelajaran kepada siswa melalui bentuk kurikulum yang bersifat matriks. Baru sejak tahun 2006, terjadi perubahan kebijakan pemerintah mengenai kurikulum seiring dengan diberlakukannya undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Kurikulum tidak lagi sepenuhnya diatur oleh pusat, akan tetapi ditentukan oleh daerah masing-masing melalui kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan. Penyusunan KTSP dilakukan oleh satuan pendidikan dengan memerhatikan dan berdasarkan standar nasional pendidikan (BSNP). Dilihat dari adanya perubahan system manajemen kurikulum itulah, maka dapat kita katakana bahwa pemberlakuan KTSP merupakan salah satu bentuk inovasi kurikulum yang ada di Indonesia. Tidak demikian dengan KTSP sebagai kurikulum operasioanal, disusun dan  dikembangkan oleh sekolah seauai dengan kondisi daerah.
Makakala kita analisis konsep di atas, maka ada beberapa hal yang berhubungan dengan makna kurikulum operasional. Pertama, sebagai kurikulum yang bersifat operasional. Maka dalam pengembangannya, KTSP tidak akan lepas dari ketetapaan-ketetapai yang telah disusun pemerintah sevara nasional. Artinya walaupun daerah diberi kewenangan untuk mengembangkan kurikulum akan tetapi kewenangan itu hanya sebatas pada pengembangan operasionalnya saja; sedangkan yang menjadi rukukan pengebmbangannya itu sendiri ditentukan oleh pemerintah, misalnya jenis mata pelajaran beserta jumlah jam pelajarannya, isi dari setiap mata pelajaran itu sendiri serta  jumlah jam pelajaranya, isi dari setiap mata pelajaran itu sendiri sert kompetensi yang harus dicapai oleh setiap mata pelajaran itu. Hal ini sesuai dengan undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 36 ayat 1, yang menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tukuan pendidikan nasional. Daerah dalam menentukan isi pelajaran terbatas pada pengambangan kurikulum muatan lolkal, yakni kurikulum yang memiliki kekhasan sesuai dengan kebutuhan daerah, serta aspek pengembangan diri yang sesuai dengan minat siswa. Jumlah jam pelajaran kudua aspek tersebut ditentukan oleh pemerintah.
Kedua, sebagai kurikulum operasional, para pengembang KTSP, di tuntut dan harus memerhatikan cirri khas kedaerahan, sesuai dengan bunyi Undang-undang No. 20 Tahun 2003 ayat 2, yakni bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Persoalan ini penting untuk dipahami, sebab walaupun standaar isi ditentukan oleh pemerintah, akan tetapi dalam operasional pembelajarannya yang direncanakan dan dilakukan oleh guru dan pengembang kurikulum tidak terlepas dar   keadaan dan kondisi daerah.
Ketiga, sebagai kurikulum operasional, para pengembang kurikulum di daerah memiliki keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum menjadi unit-unit pelajaran, misalnya dalam mengemangkan strategi dan metode pembelajaran, dalam menentukan media pembelajaran dan dalam menentukan evaluasi yan gdilakukan termasuk dalam menentukan berapa kali pertemuan serta kapan suatu topic materi harus dipelajari siswa agar kompetensi dasr yang telah ditentukan dapat tercapai. Sebagai kurikulum operasional, KTSP memiliki karakteristik sebagai berikut:
a.       KTSP adalah kurikulum sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kurun waktu tertentu. Hal ini dapat kita lihat dari struktur kurikulum KTSP yang memuat sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik. Setiap mata pelajara yang harus dipelajari ituselain sesuai dengan nama-nama disiplin ilu juga ditentukan jumlah jam pelajaran secara ketat, maka dapat dikatakan bahwa KTSP merupakan kurikulum yang berorientasi pada sdisiplin ilmu.
b.      KTSP adalah kurikulum yang berorientasi pada pengemangan individu. Hal ini dapat dilihat dari prinsip-prinsip pembelajaran dalam KTSP yang menekankan pada aktivitasa siswa untuk mencari dan menemukan sendiri matei pelajaran melalui berbagai pendikatan  dan strategi pembelajaran yang disarankan misalnya, melalui CTL, inkuiri, pembelajaran fortopolio dan lain sebagainya. Demikian juga, secara tegas dalam struktur kuikulum terdapat komponen pengembangan diri.
c.       KTSP adalah kurikulum yang mengakses kepentingan daerah. Hal ini tampak pada salah satu prinsip KTSP yakni berpusat pada potensi perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkunganya. Dengan demikian, maka KTSP adalahkurikulum yang dikembangkan oleh daerah. Bahkan, dengan program muatan lokalnya KTSP didasarkan pada keberagaman kondisi, social, budaya yang berbeda masing-basing daerahnya.
d.      KTSP merupakan kurikulum teknologis. Hal ini dapat dilihat dari adanya standar kompetensi, kompetensi dasar yang kemudian di jabarkan pada indicator hasil belajar, yakni sejumlah perilaku yang terukur sebagian bahan penilaian.

2.      Penyelenggaraan sekolah lanjutan pertama terbuka (SLTPT)
SLTPT terbuka merupakan sekolah menengah umum tingkat pertama yang kegiatan belajarnya dilaksanakan sebagian besar di luar gedung sekolah. Penyampaian pelajaran dilakukan dengan memenfaatkan berbagai media sebagai pengganti guru, misalnya dengan menggunakan paket belajar berupa modul dan pemanfaatan media elektronik seperti radio.
SLTPT terbuka diselenggarakan untuk meningkatkan pemerataaan pendidikan, khususnya bagi lulusan SD yang ingin melenjutkan pendidikannya, akan tetapi tidak dapat merealisasikan niatnya disebbkan factor geografi, social dan ekonomi. Cirri-ciri SLTPT terbuka adalah sebagai berikut:
a.       Terbuka bagi peserta didik tanpa pembatasan umur dan syarat-syarat akademis.
b.      Terbuka dalam memilih program belajar untuk mencapai ijazah formal untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan jangka pendik yang bersifat praktis, incidental dan individual (perorangan).
c.       Dalam prosees belajar mengajar bersifat terbuka yang tidak selalu harus diselenggarakan di dalam kelas mellui tatap muka dengan guru, akan tetapi dapat dilakukan di luar kelas sesuai dengan kesempatan masing-masing dengan belajar melalui berbagai media, seperti fadio, media cetak, film, foto dan lai sebagainya.
d.      Peserta didik dapat secara bebbbbas mengikuti program belajar sesuai dengan kesempatan yang tersedia.
e.       SLTP Terbuka dikelola secara terbuka, dengan melibatkan pegawai negeri, para tokoh masyarakat, orang tua peserta didik dan pamong pemerintah setemat.
Tujuan yang ingin dicapaaaai oleh SLTP Terbuka adalah agar lulusan:
a.       Menjadi warga Negara yang baik sebagai manusia yang sehat, dan kuat lahir dan batin.
b.      Menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di sekolah dasar.
c.       Memiliki bekal untuk melanjutkan pelajaran ke sekolah lanjutan atas dan utuk tujuan ke masyarakat.
d.      Meningkatkan didiplin siswa.
e.       Menilai kemajuan siswa dan memantapkan hasil pelajaran dengan media.
3.      Pengajaran melalui modul
Pengajaran melalui odul merupakan salah satu bentuk inovasi pendidikan yang pernah ada di Indonesia yang digunakan dalam berbagai penyelennggaraan pendidikn baik formal maupun non formal.
Dalam konkeks pembelajaran, modul dapat diartikan sebagai suatu unit lengkap yang berdiri sendiri yang terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didik mencapai sejumlah tujuan yang durumuskan secra khusus dan jelas. Dalam sebuah modul durumuskan suatu unit pengajaran secra jelas, dru mulai juruan yang harus dicpai, petunjuk pembelajaran atau rangkaian pembelajaran atau rangkaian kegiatan belajar yang harus dilakukan siswa, materi pembelajaran sampai kepada evaluasi beserta pedoman menentukan keberhasilannya. Dengan demikian, melalui modul siswa dapat belajar mandiri (self instructon), tanpa bantuan guru.













BAB III
KESIMPULAN
Inovasi dapat diartikan sebagai sesuatu yang baru dalam situasi social tertentu yang digunakan untuk menjawab atau memecahkan suatu permasalahan. Dilihat dari bentuk atau wujudnya “sesuatu yang baru” itu dapat berupa ide, gagasan, benda atau mungkin tindakan. Sedangkan dilihat dari maknanya, sesuatu yang baru itu bias benar-benar baru yang belum tercipta sebelumnya yang kemudian disebut denan invention, atau dapat juga tidak benar-benar baru sebab sebelumnya sudah ada dalam konteks social yang lain yang kemudian disebut dengan istilah discovery
Ada beberapa masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita. Sekalipun telah diberlakukannya otonomi daereh sebagai konsekuansi penerapan undang-undang nomor 22 tahun 1999, permasalahan itu tampaknya akan tetap ada, bahkan akan semakin kompleks. Masalah tersebut adalah masalah relevansi, masalah kualitas, masalah efektivitas dan efisiensi, masalah daya tamping sekoloah yang terbatas.
1.      Masalah relevansi pendidikan
2.      Masalah kualitas pendidikan
3.      Masalah efektivitas dan efisiensi.
4.      Masalah daya tampung yang terbatas.
Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi tentang suatu bentuk inovasi antara warga masarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu tertentu pula.



Daftar pustaka
Rudi susilana. 2006. Kurikulum dan pembelajaran. Bandung: UPI
Subandijah. (1993). Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Joyce, Bruce & Well, Marsha. (1996). Models of Teaching. Englewood Clifs. New Jersey: Prentice Hall Inc.
Sukmadinata, Nana Syaodih, (1997). Pengembangan Kurikulum: Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.